Halaman

Jumat, 28 Oktober 2011


doa-doamu yang tadi mengetuk pintu
saat adzan subuhku berlalu
masih ku nikmati peluhmu mengeja rasa sabar itu..
sedangkan rasa ikhlasku sembunyikan dengan diam membatu
sampai lidah dan sajakku membiru
oleh sifat takdzimmu,
biarkan mereka tahu
baris2 puisi ini takkan lagi bercerita tentang haru sendu...


Menunggu halalmu

Aku ingat wajah sederhanamu manis hitam,

yang terduduk diam,

seperti dendam

menunggu akhir dari gelap malam..



sabarlah,

aku sudah penuhi janjiku datang mengkhitbah

tunggulah dari jendela kamar sebelah

...

...

sebentar lagi,

"Qobiltu nikahaha bi mahrin madzkuru haalaan"



bersama ucap alhamdulillah