Halaman

Rabu, 23 November 2011


Dari jendela,
Terdengar lirih bacaan doa
Kusempatkan berdiri dan mencari tahu siapa
Ternyata,
Anak bu haji juragan angkutan kota
Kuberanikan menyapa,
Ku lempar batu tepat mengenai kaca
''siapa?''dia bertanya.
Celaka,
Rupanya bapaknya masih ada berjaga..

#set 2

Dinding itu
hanya mencoba
menjagamu dari dingin
menutup arah mata angin
meski kadang membisu
tapi coba dengarkan saat
dia dendangkan lagu,
aku yakin nadanya mampu
buatmu tersipu malu
ternyata benar,tadi subuh
telah datang mengeluh
di sebelah dinding yang
sbentar lg runtuh
kusiapkan sajadah tapi
maaf agak lusuh
siapa tahu nanti sujud itu
butuh

# set 3

Lamunanku yang sendirian
akhirnya kusandarkan
di sholat maghribku teriakkan adzan..

Minggu, 20 November 2011

Diluar rumah,tepat disamping serambi
Seperti biasa selesai hujan berhenti
Digenangan air aku ayun-ayunkan kaki
berbincang dan bernyanyi,
Kekanan kekiri
Sambil kurebut matahari
Untuk kuciptakan puisi.

Jumat, 28 Oktober 2011


doa-doamu yang tadi mengetuk pintu
saat adzan subuhku berlalu
masih ku nikmati peluhmu mengeja rasa sabar itu..
sedangkan rasa ikhlasku sembunyikan dengan diam membatu
sampai lidah dan sajakku membiru
oleh sifat takdzimmu,
biarkan mereka tahu
baris2 puisi ini takkan lagi bercerita tentang haru sendu...


Menunggu halalmu

Aku ingat wajah sederhanamu manis hitam,

yang terduduk diam,

seperti dendam

menunggu akhir dari gelap malam..



sabarlah,

aku sudah penuhi janjiku datang mengkhitbah

tunggulah dari jendela kamar sebelah

...

...

sebentar lagi,

"Qobiltu nikahaha bi mahrin madzkuru haalaan"



bersama ucap alhamdulillah

Sabtu, 25 Juni 2011

rintih terakhirku

Sesaat rumput2 ilalang
tak bisa lari dari detik2 petang
hanya terdiam ketika dingin datang bertandang
menunduk saat panas menjenguk

tak seperti saat siang
yang tetap riang meski tanpa kunang2

dan akupun tau kau jg trdiam dalam khusyuk doa
tanpa sapa,
temani keadaan bentukku tanpa suara ataupun rupa..

Kamis, 24 Maret 2011

emosi tengah malam

karena semalam aku sibuk bercengkrama dengan kebisuan,
sesaat itu kecurigaanku bertemu dengan kemarahanku.hempasan daun pintu pun tak terelakkan di samping dipan rumahku..secangkir kopi coba redam emosiku hingga petang
sekarang,
semenjak aku kembali sadar dalam kegamangan,aku kembali hantarkan luka santun
dari meja usang
sesaat aku di pinggir kota magelang

Kering ragaku

Aku berjatuhan di bawah taman kota
tersapu angin,
setelah lelah kau jelajahi belantara tanpa peta
sementara baitku mencari kesepian
pada ujung pagi yang takkan pernah kau jamah oleh ranting rerimbunan

aku tau,ini adalah sebuah akhir dari perjumpaan
tanpa aku menyingkir dari jalanmu mencari sudut angin
tak ada lagi titik penantian
daun keringku merunduk mengikuti kematian..

Rabu, 23 Maret 2011

melepas mimpi

aku akan bernyanyi. .
tidurlah. .
akan aku rengkuh kau penuh,
bermimpilah. . lelah telah sunyi,
seluruh gemuruh dan ...
marah-lelah,
setiap hari akan punah terlumat waktu, rebah di tengah rumah. .
aku tak pernah lelah mendampingimu, di sana(meski tanpa raga dan jiwa)
dan..
Anggukan yakinmu membuat mataku membasah, berusaha kusembunyikan lewat seulas senyumku yang palsu..

sajak kekalahan

Di sajak subuh yang sepertinya berjalan mundur,aku merindu dengan amarahku
bayanganmu yang berlalu lalang mengganggu sepiku yang membisu
tawamu kian riuh injak harga diriku
malam mulai menghilang
terpaksa ku akui ditepian subuhku menyambut kekalahanku
tak ada percik semangat membuatku kembali hidup
suarakan lagu2 kesedihan dan rintihan
semuanya terkubur di ruangku yang tak lagi berbunyi
ataupun berpenghuni

Memahami batinmu yang suci



Selasa, 22 Maret 2011

raga yang merintih

Sebenarnya aku tak mampu pergi untuk melupakan senyum
kata dan kalimatmu menggurat dalam dinding jiwa

Sebenarnya aku ingin membencimu
tapi aku malah terhenti di garis bayanganmu

Andai saja aku bisa membencimu seketika
pasti telah kulakukan dari dulu mengenal jasadmu yang bernyawa lima
kau mati berkali-kali hantui ruangku yang terlanjur hitam berjelaga

andai saja aku mampu...
aku akan selalu menganggapmu tak pernah tak pernah ada
menulis puisi atau kata yang sesakkan makna..

Sabtu, 19 Maret 2011

menembus naluri laki2ku

Pada detik ke seratus aku tinggalkan ruanganku yang berdebu
mengikuti arus angin di semua penjuru
kota yang makin lama pecahkan diamku
pada selembar rupiah terbilang seribu

ku terjangkan niatku mencari irama madu
di ramai mall indramayu
melepaskan mata liarku menembus gadis2 minim berbaju
kuras semua dahagaku tentang malam yang kelabu
entahlah,
mereka cuma sosok pengganggu
(pikirku)

lama aku lekatkan lamunku di jaket warna biru
seakan aku benar2 malu
dengan sendiriku yang lama belagu

ah,
ku lepaskan saja hidangan berbalut nafsu

Simfoni penghabisan

Kamar pengap dan puluhan baju yang teronggok di sudut2 meja
bantalpun telah lusuh dan basah oleh airmata
semua detik berganti menit menjejak setiap kata
tak mungkin ku tebak arah bicara
Entah,kemana aku harus mengeja
stiap episode tentangnya

sedangkan,
sedalam apapun kugali kubur dan menimbun cerita
tetap saja aku sendiri bersuara,
"kau tak berguna,tak lagi peka.isyaratku kini telah reda"
dia hanya terdiam
saat kembali kupandangi wajah lugumu
"kemana harus aku bicarakan babak2 tentangmu hari ini? "bisikku di bingkai fotonya
aku takkan jera
menguliti setiap makna

aku terlanjur kalah oleh bahasa
yang indah mengukir di setiap file terakhir
biarlah keyboard dan line,,bukti bahwa kita pernah bersama
setidaknya di alam maya...

kutunggu di stasiun kereta

Ketika mentari hinggapi pagi,
pria paruh baya tak menunggu di sudut gerbong tua
dia sudah letih bicarakn matahari dan sorak sorai dunia
raga dan jiwanya terkapar sesali satu masa
krna kecewa pada sesuatu yg tak prnah ada..


sedangkan bayangan yang menunggumu di bawah palang kereta
adalah pemuda
yang genggam bara pada sebuah asa,
dialah yang masih bisa membaca setiap rasa
penuhi rongga2 mu bercerita
pergilah...
sblom airmatanya mengering punahi setiap indra
dan biarkan
pria paruh baya itu menunggu kereta selanjutnya...

(asap rokonya tutupi kerut wajahnya yang hampir sama usianya dengan stasiun kota lama)


Aku tau,
semua cerita itu,tentang kesendiriannya menunggui kereta..
berharap corat-coretnya di dinding2 usang terbaca
seandainya aku tau,
mungkin aku akan pulang lebih awal...dengan membawa membawa sekantong boneka.

...dan sekarang ,

apakah bayangannya masih berjalan-lincah dan manja di spanjang garis marka
depan stasiun kota,menunggu kereta tua??
kakaknya telah lama datang,

tapi yang di dapatinya di lorong2 stasiun cuma ruang2 gersang
datang bersama kereta senja utama
menunggu adeknya kembli ada
tanpa ada berita
hanya riuh bocah2 bertemu ibunya,
Malam pun mengekalkan kesendiriannya

dan akupun,
Berdiam Dalam Bangku Kereta
menghayati satu masa yang terlewati
adakah waktu buat kembalikan laju waktu?

sementara bayangan adiknya masih terdiam
hanya suara nyaring peluit dan wajah2 masam
trtawakan sepi yang berpesta di ujung2 malam
sementara raga dan jiwaku,
menunggu gadis kecil kan menjemputku
dengan wajah termanis dan celotehnya yg lucu.

Jumat, 18 Maret 2011

bait doa

Dengan tanpa segala daya kekuatan yang Engkau berikan kepada hamba,
takkan pernah mampu diri ini berkarya,
takkan mampu diri ini berlomba,
takkan mampu diri ini berupaya,
takkan mampu diri ini berlari,
takkan mampu diri ini berjalan,
takkan mampu diri ini melambai,
takkan mampu diri ini mengangguk,
takkan mampu diri ini tertawa,
takkan mampu diri ini tersenyum,
takkan mampu diri ini menangis,
takkan mampu diri ini berkedip,
takkan mampu diri ini…
takkan mampu diri ini…
takkan mampu diri ini…menuju akan segala perintah dan larangan-Mu,
tersimpuh tunduk akan segala kebesaran-Mu…
Dengan segala kekurangan, dengan segala kesalahan, dengan segala kerendahan, dengan segala dosa-dosa yang kami pikul,
dengan segala aniaya yg hamba perbuat sendiri akan kehilafan, dengan segala…segala…segala…segala yang tak pernah sempurna pada hamba akan sifat makhluk-Mu Ya Robb….
Dengan penuh keyakinan akan segala sifat-Mu ya Robb, sujud syukur akan segala karunia, sujud kami haturkan akan segala ketundukan, kepasrahan, memohon segala ampunan-Mu ya Robb…amin..

dimana kau tinggal

Sejauh mana kau melangkah

Hingga terlalu dini menabur harapan

Sejauh mana matamu memandang

Hingga menembus belahan langit



Selama ini hanya meratap

Menunggu awan menumpahkan emas

Menjelma sebagai kenikmatan

Yang akhirnya tinggal hayalan



Tanpa tujuan kau bicara

Tanpa rasa kau menerjang

Oleh pengapnya suasana

Yang menghina idialismu



Kata-kataku tak kau hiraukan

Walau dalam sadar begitu malu dirimu

Terlalu tenggelam dalam ketidak perdulian

Kau buka semua tirai-tiraimu

Sekejab orang mengintip curiga

Ada yang tertawa melihatmu

Ada yang meludah membuang namamu

Tapi adakah yang berusaha untuk

menutup gerai tirai-tiraimu

Sebagai tanda dengan lentera temukanmu

Dalam lumpur kau menggapai-gapai

Namun tak mau menerima uluran tanganku.



(sajak yang tertinggal di pojok jembatan)

Sajak untuk adikku

Saat keindahan itu ada

kau akan terus tertawa bahagia

sedangkan ketulusannya entah tak lgi bicara

pada kepasrahan yang tergeletak tak berdaya



lamunmu terus bertanya

kenapa harus kau temui tembok penuh rahasia?



meski dukamu berteriak resah

aku coba menepuk bahumu yang sebelah

kataku,"bangkitlah,kau tak harus lemah!"



biarkan tangismu menjadi gerimis

yang terlihat dan terasa manis



kalaupun dia terjatuh,tak ada suara mengeluh

meski harapanmu telah runtuh

...

...

aku akan bernyanyi. .

tidurlah. .

akan aku

rengkuh kau penuh, bermimpilah. .

lelah telah sunyi, seluruh gemuruh

dan

marah-lelah, setiap hari akan punah terlumat waktu, rebah di tengah rumah. .

aku tak pernah lelah mendampingimu,

di sini(meski tanpa raga dan jiwa)

berakhir dengan menutup sedihmu.

Meraba bayangan sajadahku

Doaku yg tak sempat menyebut nama indahmu

dan usai sebelum waktu

bertebaran di sepiku menunggu

rasa maluku lari bersembunyi

di balik pintu bambu



aku mengingatmu yang tersujud di sajadahku

meski aku tahu itu dulu



jujur,aku rindu...

kata indahmu,wajah sendumu,dan semua kenangan2 itu

dan kini telah berlalu.



percayalah...

aku masih mencintaimu karna cintamu pada tuhanku.

Kamis, 17 Maret 2011

Mendengar dari senyummu

Hai...,
selembar daun keringku memanggil
dan menyanyi kecil tenteng elokmu
dan kuberikan setangkai puisi bukti setiaku pada yang menyayangiku
bibirku tak lagi sakit peragakan kalimat2 itu

sendiriku telah coba kau jamah dari hijau belantara tanpa ragu-ragu
dan sebelumnya selalu ku temui rupa2 yang sama siapa di balik lucu pemilik wajahmu
aku ingin katakan rindu itu dengan sederhana;
"jaga rasa ini sebelum mendung kembali hitam berjelaga",
semoga semua tak sia2

sebatang ranting jeritkan salam
pada statusmu,kirana senandungkan alam
kehadiranmu taklukan kejemuan,
rubuhkan kebosanan dan kesepian
berikan nafasmu untuk ku eja menjadi ketabahan

bisikku,"dari mana kau datang?"

Ragaku merintih

Sebenarnya aku tak mampu pergi untuk melupakan senyum
kata dan kalimatmu menggurat dalam dinding jiwa

Sebenarnya aku ingin membencimu
tapi aku malah terhenti di garis bayanganmu

Andai saja aku bisa membencimu seketika
pasti telah kulakukan dari dulu mengenal jasadmu yang bernyawa lima
kau mati berkali-kali hantui ruangku yang terlanjur hitam berjelaga

andai saja aku mampu...
aku akan selalu menganggapmu tak pernah tak pernah ada
menulis puisi atau kata yang sesakkan makna...