Ketika mentari hinggapi pagi,
pria paruh baya tak menunggu di sudut gerbong tua
dia sudah letih bicarakn matahari dan sorak sorai dunia
raga dan jiwanya terkapar sesali satu masa
krna kecewa pada sesuatu yg tak prnah ada..
sedangkan bayangan yang menunggumu di bawah palang kereta
adalah pemuda
yang genggam bara pada sebuah asa,
dialah yang masih bisa membaca setiap rasa
penuhi rongga2 mu bercerita
pergilah...
sblom airmatanya mengering punahi setiap indra
dan biarkan
pria paruh baya itu menunggu kereta selanjutnya...
(asap rokonya tutupi kerut wajahnya yang hampir sama usianya dengan stasiun kota lama)
Aku tau,
semua cerita itu,tentang kesendiriannya menunggui kereta..
berharap corat-coretnya di dinding2 usang terbaca
seandainya aku tau,
mungkin aku akan pulang lebih awal...dengan membawa membawa sekantong boneka.
...dan sekarang ,
apakah bayangannya masih berjalan-lincah dan manja di spanjang garis marka
depan stasiun kota,menunggu kereta tua??
kakaknya telah lama datang,
tapi yang di dapatinya di lorong2 stasiun cuma ruang2 gersang
datang bersama kereta senja utama
menunggu adeknya kembli ada
tanpa ada berita
hanya riuh bocah2 bertemu ibunya,
Malam pun mengekalkan kesendiriannya
dan akupun,
Berdiam Dalam Bangku Kereta
menghayati satu masa yang terlewati
adakah waktu buat kembalikan laju waktu?
sementara bayangan adiknya masih terdiam
hanya suara nyaring peluit dan wajah2 masam
trtawakan sepi yang berpesta di ujung2 malam
sementara raga dan jiwaku,
menunggu gadis kecil kan menjemputku
dengan wajah termanis dan celotehnya yg lucu.
pria paruh baya tak menunggu di sudut gerbong tua
dia sudah letih bicarakn matahari dan sorak sorai dunia
raga dan jiwanya terkapar sesali satu masa
krna kecewa pada sesuatu yg tak prnah ada..
sedangkan bayangan yang menunggumu di bawah palang kereta
adalah pemuda
yang genggam bara pada sebuah asa,
dialah yang masih bisa membaca setiap rasa
penuhi rongga2 mu bercerita
pergilah...
sblom airmatanya mengering punahi setiap indra
dan biarkan
pria paruh baya itu menunggu kereta selanjutnya...
(asap rokonya tutupi kerut wajahnya yang hampir sama usianya dengan stasiun kota lama)
Aku tau,
semua cerita itu,tentang kesendiriannya menunggui kereta..
berharap corat-coretnya di dinding2 usang terbaca
seandainya aku tau,
mungkin aku akan pulang lebih awal...dengan membawa membawa sekantong boneka.
...dan sekarang ,
apakah bayangannya masih berjalan-lincah dan manja di spanjang garis marka
depan stasiun kota,menunggu kereta tua??
kakaknya telah lama datang,
tapi yang di dapatinya di lorong2 stasiun cuma ruang2 gersang
datang bersama kereta senja utama
menunggu adeknya kembli ada
tanpa ada berita
hanya riuh bocah2 bertemu ibunya,
Malam pun mengekalkan kesendiriannya
dan akupun,
Berdiam Dalam Bangku Kereta
menghayati satu masa yang terlewati
adakah waktu buat kembalikan laju waktu?
sementara bayangan adiknya masih terdiam
hanya suara nyaring peluit dan wajah2 masam
trtawakan sepi yang berpesta di ujung2 malam
sementara raga dan jiwaku,
menunggu gadis kecil kan menjemputku
dengan wajah termanis dan celotehnya yg lucu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar