Sejauh mana kau melangkah
Hingga terlalu dini menabur harapan
Sejauh mana matamu memandang
Hingga menembus belahan langit
Selama ini hanya meratap
Menunggu awan menumpahkan emas
Menjelma sebagai kenikmatan
Yang akhirnya tinggal hayalan
Tanpa tujuan kau bicara
Tanpa rasa kau menerjang
Oleh pengapnya suasana
Yang menghina idialismu
Kata-kataku tak kau hiraukan
Walau dalam sadar begitu malu dirimu
Terlalu tenggelam dalam ketidak perdulian
Kau buka semua tirai-tiraimu
Sekejab orang mengintip curiga
Ada yang tertawa melihatmu
Ada yang meludah membuang namamu
Tapi adakah yang berusaha untuk
menutup gerai tirai-tiraimu
Sebagai tanda dengan lentera temukanmu
Dalam lumpur kau menggapai-gapai
Namun tak mau menerima uluran tanganku.
(sajak yang tertinggal di pojok jembatan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar