Halaman

Jumat, 18 Maret 2011

dimana kau tinggal

Sejauh mana kau melangkah

Hingga terlalu dini menabur harapan

Sejauh mana matamu memandang

Hingga menembus belahan langit



Selama ini hanya meratap

Menunggu awan menumpahkan emas

Menjelma sebagai kenikmatan

Yang akhirnya tinggal hayalan



Tanpa tujuan kau bicara

Tanpa rasa kau menerjang

Oleh pengapnya suasana

Yang menghina idialismu



Kata-kataku tak kau hiraukan

Walau dalam sadar begitu malu dirimu

Terlalu tenggelam dalam ketidak perdulian

Kau buka semua tirai-tiraimu

Sekejab orang mengintip curiga

Ada yang tertawa melihatmu

Ada yang meludah membuang namamu

Tapi adakah yang berusaha untuk

menutup gerai tirai-tiraimu

Sebagai tanda dengan lentera temukanmu

Dalam lumpur kau menggapai-gapai

Namun tak mau menerima uluran tanganku.



(sajak yang tertinggal di pojok jembatan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar