Kubiarkan kau terbang, dan biarkan aku bermain dikubangan sisa air hujan.
bersama teman-temanku yang tak kau kenal.Abaikan, daun-daunku tak pernah lagi menimang embun
disini aku sudah membaur dengan tanah dan lumpur.
santri berpuisi
Rabu, 03 April 2013
Rabu, 23 November 2011
Dari jendela,
Terdengar lirih bacaan doa
Kusempatkan berdiri dan mencari tahu siapa
Ternyata,
Anak bu haji juragan angkutan kota
Kuberanikan menyapa,
Ku lempar batu tepat mengenai kaca
''siapa?''dia bertanya.
Celaka,
Rupanya bapaknya masih ada berjaga..
#set 2
Dinding itu
hanya mencoba
menjagamu dari dingin
menutup arah mata angin
meski kadang membisu
tapi coba dengarkan saat
dia dendangkan lagu,
aku yakin nadanya mampu
buatmu tersipu malu
ternyata benar,tadi subuh
telah datang mengeluh
di sebelah dinding yang
sbentar lg runtuh
kusiapkan sajadah tapi
maaf agak lusuh
siapa tahu nanti sujud itu
butuh
# set 3
Lamunanku yang sendirian
akhirnya kusandarkan
di sholat maghribku teriakkan adzan..
Minggu, 20 November 2011
Jumat, 28 Oktober 2011
doa-doamu yang tadi mengetuk pintu
saat adzan subuhku berlalu
masih ku nikmati peluhmu mengeja rasa sabar itu..
sedangkan rasa ikhlasku sembunyikan dengan diam membatu
sampai lidah dan sajakku membiru
oleh sifat takdzimmu,
biarkan mereka tahu
baris2 puisi ini takkan lagi bercerita tentang haru sendu...
Menunggu halalmu
Aku ingat wajah sederhanamu manis hitam,
yang terduduk diam,
seperti dendam
menunggu akhir dari gelap malam..
sabarlah,
aku sudah penuhi janjiku datang mengkhitbah
tunggulah dari jendela kamar sebelah
...
...
sebentar lagi,
"Qobiltu nikahaha bi mahrin madzkuru haalaan"
bersama ucap alhamdulillah
yang terduduk diam,
seperti dendam
menunggu akhir dari gelap malam..
sabarlah,
aku sudah penuhi janjiku datang mengkhitbah
tunggulah dari jendela kamar sebelah
...
...
sebentar lagi,
"Qobiltu nikahaha bi mahrin madzkuru haalaan"
bersama ucap alhamdulillah
Sabtu, 25 Juni 2011
rintih terakhirku
Sesaat rumput2 ilalang
tak bisa lari dari detik2 petang
hanya terdiam ketika dingin datang bertandang
menunduk saat panas menjenguk
tak seperti saat siang
yang tetap riang meski tanpa kunang2
dan akupun tau kau jg trdiam dalam khusyuk doa
tanpa sapa,
temani keadaan bentukku tanpa suara ataupun rupa..
tak bisa lari dari detik2 petang
hanya terdiam ketika dingin datang bertandang
menunduk saat panas menjenguk
tak seperti saat siang
yang tetap riang meski tanpa kunang2
dan akupun tau kau jg trdiam dalam khusyuk doa
tanpa sapa,
temani keadaan bentukku tanpa suara ataupun rupa..
Kamis, 24 Maret 2011
emosi tengah malam
karena semalam aku sibuk bercengkrama dengan kebisuan,
sesaat itu kecurigaanku bertemu dengan kemarahanku.hempasan daun pintu pun tak terelakkan di samping dipan rumahku..secangkir kopi coba redam emosiku hingga petang
sekarang,
semenjak aku kembali sadar dalam kegamangan,aku kembali hantarkan luka santun
dari meja usang
sesaat aku di pinggir kota magelang
Langganan:
Postingan (Atom)
